
Kantor Perwakilan Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Paguyuban Reog Ponorogo Se-Jabodetabek menggelar Parade Reog Ponorogo Se-Jabodetabek yang akan menampilkan Grup-grup Reog seluruh Jabodetabek. Parade akan diselenggarakan pada tanggal 14 November 2010 di Panggung Terbuka Anjungan Jawa Timur Taman Mini ”Indonesia Indah”
Kesenian Reog Ponorogo merupakan salah satu produk dan aset budaya bangsa, dengan segala keunikannya telah menyebar ke seluruh pelosok nusantara dan juga telah mengharumkan nama Indonesia dalam percaturan budaya di dalam negeri maupun manca negara. Sejalan dengan hal tersebut, Kantor Perwakilan Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Paguyuban Reog Ponorogo se-Jabodetabek pada satu dasawarsa terakhir telah mengadakan beberapa kegiatan yang berbentuk pelatihan maupun festival yang dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan dan melestarikan kesenian Reog Ponorogo agar tetap dapat diterima masyarakat seiring lajunya perkembangan jaman.
Sebagai bentuk rasa tanggung jawab dalam mempromosikan dan mengembangkan potensi seni budaya Jawa Timur, Kantor Perwakilan Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Paguyuban Reog Ponorogo se-Jabodetabek kembali menyelenggarakan Parade Reog Ponorogo se-Jabodetabek tahun 2010. Parade Reog ini diharapkan dapat mengangkat dan mempromosikan Reog Ponorogo sebagai aset budaya bangsa serta meningkatkan kreatifitas bagi senimannya.
Pada awalnya Reog adalah sebuah bentuk kesenian arak-arakan, dan panggungnya di halaman-halaman dan perempatan jalan. Seiring perkembangan, Reog mulai digarap menjadi sebuah tontonan yang dikemas untuk kebutuhan pertunjukan. Dalam kurun waktu terakhir Reog sering dipentaskan dalam format festival. Sejak masa Bupati Markum Singadimeja, Reog menjadi slogan dan trade mark Kabupaten Ponorogo sampai sekarang.
Kesenian Reog syarat dengan filosofi kehidupan manusia, dalam gerakan-gerakannya merupakan simbol perjalanan hidup dari lahir, hidup hingga mati. Sejarah Reog Ponorogo tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Kediri dan Kerajaan Bantarangin (Ponorogo). Berbagai versi tentang asal mula Kesenian Reog diantaranya menurut legenda Reog Ponorogo, konon seorang Raja bernama Prabu Klana Sewandana, penguasa Kerajaan Bantarangin berguru pada Ki Ajar Lawu di Pertapaan Gunung Lawu bersama adik seperguruan yang diangkat menjadi patihnya bernama Pujangga Anom yang mempelajari ajian Welut Putih dan Topeng Sakti. Dalam rangka penyempurnaan ilmu Pecut Samandiman, Prabu Klana Sewandana harus bersumpah untuk tidak bersetubuh dengan wanita, apalagi menjadikannya isteri. Konflik batin terus terjadi dalam dirinya. Apalagi para mahaguru yang lain menghendaki ia harus mempunyai penerus dan pewaris kerajaanya. Pada saat yang sama ia jatuh cinta kepada seorang putri dari Kerajaan Kediri bernama Dewi Sangga Langit, rasa cinta yang dalam membuatnya berani meminang Sang Putri. Cinta bertepuk sebelah tangan, Dewi Sangga Langit yang tidak menaruh rasa cinta kepada Prabu Klana Sewandana, memberikan persyaratan yang sangat berat kepada Sang Prabu untuk dapat memperisterinya. Sebagai syarat pertama, Prabu Klana Sewandana harus membuat terowongan bawah tanah dalam waktu semalam. Dengan meminta bantuan Patih Pujonggo Anom melalui kesaktian Ajian Welut Putih dia berhasil membuat terowongan tersebut. Sebagai persyaratan kedua yaitu Dewi Sangga Langit meminta binatang yang berwujud satu badan dua kepala.
Setelah itu Patih Pujangga Anom membawa arak-arakan pasukan Bantarangin yang terdiri dari 144 prajurit berkuda (jatilan) dan pasukan Kolor Sakti (warok) menuju Kerajaan Kediri melewati hutan belantara yang bernama Alas Lodaya yang merupakan wilayah kekuasaan Singo Barong, sebuah perwujudan makhluk berkepala harimau dan berbadan manusia. Singo Barong mempunyai hewan kesayangan yaitu Burung Merak yang bertugas membersihkan kutu di kepalanya. Kemudian terjadilah peperangan antara pasukan Prabu Klana Sewandana dengan pasukan Singo Barong yang dimenangkan oleh pasukan Prabu Klana Sewandana. Dengan demikian syarat kedua telah terpenuhi.
Sebagai persyaratan ketiga, Sang Prabu harus menciptakan kesenian yang belum pernah ada di tanah Jawa sebagai iringan pernikahannya. Dengan menggabungkan berbagai alat musik gamelan di tanah Bantarangin seperti ; Gong Beri, Kenong, Slompret (terompet) dan lain-lain. Alat-alat musik tersebut pada awalnya berfungsi sebagai sandi atau alat komunikasi untuk mengumpulkan para penduduk misalnya Gong Beri dan Kenong / Kempul, sedangkan Terompet sebagai tanda penghormatan kepada Raja. Adapun Singo Barong dan binatang kesayangannya (Burung Merak) melengkapi seserahan Kerajaan Bantarangin. Informasi dari berbagai sumber.
Parade Reog tahun 2010 ini akan menampilkan 5 (lima) Koordinator Wilayah yang tersebar di seluruh Jabodetabek, Tangerang dan Banten, diantaranya adalah ; Koordinator Wilayah Jakarta Timur dan Bekasi, Koordinator Wilayah Jakarta Selatan dan Depok, Koordinator Jakarta Utara dan Pusat, Koordinator Wilayah Jakarta Barat dan Tangerang serta Koordinator Wilayah Bogor. Selain itu Parade Reog tahun ini akan dimeriahkan oleh Grup bintang tamu yang didatangkan langsung dari Kabupaten Ponorogo Jawa Timur.



0 komentar:
Posting Komentar